Ketika Terdzolimi

بِسْــــــــــــــــــمِ اﷲِالرَّحْمَنِ اارَّحِيم

Beberapa pekan lalu saya bertemu seorang kakak tingkat secara tidak sengaja, waktu itu kami sama sama mencari barang di sebuah department store. Beliau agaknya sedikit lupa tentang saya (yaiyalah,hehehe).

Yaa, walaupun beliau tidak hafal nama saya namun ternyata kami berbincang cukup lama, kira kira dari menjelang ashar hingga maghrib (bagi saya cukup lama karena biasanya orang hanya basa basi secukupnya bila bertemu dengan kenalan). Menjelang maghrib kami memutuskan untuk ke foodcourt memesan makanan berbuka.

Beliau mulai bercerita tentang seseorang yang saya kenal, beliau mempunyai urusan bisnis dengannya. Singkat cerita apa yang saya tangkap dari cerita beliau adalah, sebenarnya terjadi kesalahpahaman antara keduanya, dimana yang satu merasa tercurangi namun tanpa tabayyun menyampaikan perasaannya sehingga yang mendzolimi pun tidak merasa mendzolimi. Nah, yang satunya merasa sudah terdzolimi kemudian membalaskan sakit hatinya tersebut dengan hal lain. Dan pihak yang mendzolimi tadi merasa terdzolimi pula akibat niat pembalasan pihak terdzolimi pertama, nah bingung toh? haha :mrgreen:

Intinya tuh begini,

Pada kondisi dimana kita sedang merasa terancam ataupun ada sesuatu dari diri kita terlukai oleh orang lain, maka mekanisme pertama yang muncul dari kita adalah defence. Itu manusiawi. Defence atau sikap membela diri masih baik apabila tidak dilanjutkan dengan tindakan lain, revenge misalnya. Namun karena rasa sakit itu menutupi nurani maka demi menghilangkan atau menghapus sakitnya itu dia akan balas menyakiti, barangkali dengan begitu yang bersangkutan akan merasa tentram. Tapi apa itu baik?

Saya tidak tahu apa sesuatu itu baik ato buruk, barangkali mereka yang lebih ahli dalam bidang tersebut lebih mumpuni untuk menjelaskan, seorang psykolog ataupun alim ulama. Namun yang ingin saya sampaikan sekaligus sebagai catatan diri saya sendiri adalah…


Once you ever hurted, it doesn’t mean you legally to do the same


Orang yang mencurangi orang lain demi keuntungannya sebenarnya dia sedang mempersempit jalan rezekinya sendiri, jika kita yang tercurangi semoga itu menjadi pembuka kita kepada jalan rezeki yang lebih lapang, itu saja

amarah

Urusan balas membalas barangkali di hati akan seolah tentram, namun kita tak perlu menjadi asisten malaikat untuk menurunkan karma bagi orang yang mendzolimi kita, jadi biarkan Alloh sendiri yang selesaikan dengan caranya. Ikhlas memang berat

❤ cwh

Advertisements