Aksi Bela AlQur’an

14963389_10208571114539556_4862823603289644822_n

JAYAKARTA

Pati Unus menemui Syahidnya ketika salah satu meriam memporak porandakan lambung kapal kesultanan Demak. Sedangkan perang gabungan dari kesultanan Banten, Cirebon dan Demak masih bergelora mengusir Portugis dari pelabuhan Sunda Kelapa.

Seperti kisah perang Mu’tah, maka dicarilah pemimpin baru yang mampu menggantikam Sultan ke dua Kerajaan Demak tersebut, dipilihlah seorang pemuda yang kepiawaiannya dalam perang lautan tak lagi disangkal, seorang pemuda yang dengan kesungguhannya mempelajari teknologi pembuatan senjata pasca kekalahan pertama melawan Portugis yang membuatnya memperoleh gelar khan dari keluarga jauhnya di India, ialah cucu maulana Ishak; Maulana Fadhullah khan, penjajah menyebutnya dengan nama Falatehan dan kita mengenalnya dengan nama Fatahillah.

Dikobarkanlah kembali Jihad melawan portugis bersama sang mertua, cucu Prabu Siliwangi yang bernama Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati.

Dibangkitkan kembali semangat juang pasukan Islam dengan gemuruh Takbir, sampai kemudian Allah menurunkan kemenanganya pada tanggal 22 Juni 1527.

14947672_10206286297150897_1544484960459775665_n

Itulah Kota yang diperjuangkan atas nama Islam, kota yang direbut dengan semangat juang para ulama, kota yang tanahnya basah oleh darah para Syuhada. Itulah kota yang kemudian diberi nama Fatham Mubina (ayat pertama surat Al-Fath yang berarti kemenangan yang Nyata) yang kemudian di translasikan menjadi Jayakarta, dan sekarang kita mengenalnya dengan nama Jakarta.
Maka ketika kesucian Al-Qur’an yang salah satu suratnya diabadikan sebagai nama kota tersebut dilecehkan oleh pemimpinnya yang tidak paham akan toleransi, maka jangan heran ketika seluruh kaum muslimin, bukan hanya dari Banten, Cirebon dan Demak, bersatu padu untuk menuntut keadilan Hukum bagi sang penista.14956511_10206287577502905_7242983343421339283_n

Farhan Hadi Priatna

Siapa Dibalik Aksi 4 November
@felixsiauw

Jika ada satu kitab yang paling penting bagi kaum Muslim, maka itu adalah Al-Quran, sebab darisana kaum Muslim menstandarkan semuanya, baik buruk, boleh tidak, semua dari Al-Qur’an

Maka wajar bila Al-Qur’an dinista, kaum Muslim tak dapat menerima, sebab keimanan mereka terusik, mereka terluka dan marah, tersakiti sebab perkataan yang dikeluarkan tidak pada tempatnya

Terlukanya banyak Muslim sebab aqidah, yang menjadi tulang punggung agama, yang paling penting yang diusik. Maka tanggapan Muslim pun serius, sebab ini memang urusan yang berat

14695497_10206955570721514_407580465717047651_n

Kesalahan perama menyikapi penistaan Al-Quran ini, adalah menuduh bahwa gerakan #BelaQuran ini gerakan politik, terkait pilkada. Ini justru makin menyakiti, klaim yang salah kaprah

Coba lihat bagaimana seluruh nusantara bereaksi, berbondong-bondong datang ke ibukota, mereka tak ada urusan dengan politik praktis, apalagi uang, tidak juga jabatan, bukan itu semua

14956000_10154502135536351_5769256266987690123_n

Kesalahan kedua adalah, mengatakan bahwa semua ini urusan rasis. Islam tidak pernah mempermasalahkannya, sayapun Chinese dan keluarga saya begitu, tapi tak ada masalah samasekali

Lalu apa yang menggerakkan mereka berkumpul mengadakan aksi esok? Adalah keimanan yang menggerakan, menuntut keadilan untuk ditegakkan, panggilan ini panggilan langit

Bukan urusan politik praktis, bukan juga etnis apalagi rasis, ini tentang cinta Al-Qur’an, melakukan apa yang paling maksimal. Karena Allah, karena kita ingin membela kemuliaan agama

Dan bila sudah ini motivasinya, maka mereka takkan dapat disuap, juga tidak mundur, sebelum keadilan ditegakkan. Yaitu penista Al-Qur’an dihukum seberat-beratnya agar jera

Ambillah Bagian

Selamat tanggal empat. Selamat hari jum’at. Agama ini sampai pada kita melalui darah juang Rasulullah, sahabat, para mujahidin terdahulu. Ketika risalah ini telah sampai pada kita, maka tugas kita sekarang yang menjaganya. Pikullah beban di bahumu, ambillah bagian dalam penjagaan masa depan Islam.

Kita tak pernah menjadi penjaga Rasulullah di kala dikejar musuh sebagaimana Abu Bakar mendampingi bersembunyi di gua Tsur. Kita tak pernah menjadi penjaminnya di malam hari, layaknya Ali yang menggantikan tidur di kasur Nabi kala rumahnya dikepung para pembenci. Pun kita tak pernah menjadi tameng beliau kala musuh hendak mencelakai sebagaimana Thalhah sang perisai Nabi di perang Uhud. Hingga pasca perang didapati di sekujur tubuhnya terdapat lebih dari 70 luka tusukan tombak, sobekan pedang dan tancapan panah, bahkan jari-jarinya putus. Allahuakbar!

Maka di masa kita, apa yang bisa kita lakukan untuk menjaga risalah ini, lakukan. Ambillah bagian.

Barokallohu fiikum. 

Hanis Miftakhul Hidayah

14947787_10206270346992153_9006922026297479631_n

Advertisements