#Day 20. A Broken Inner Child

Terhitung sejak sore tadi saya sudah setengah jalan menulis draft untuk prompt hari ini, namun ketika prompt sudah berganti ternyata saya belum bisa menyelesaikannya, yaa mau nggak mau saya harus bahas yang lain.

Uhmm…baiklah…

Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca tulisan di emakpintas.asia.com oleh seorang teman semasa kuliah dulu  , beliau mengisahkan secara apik perjuangannya mengatasi uhm…apa ya… Mungkin semacam depresi atau post partum syndrome atau entah apa namanya saya kurang paham.

Nah, satu kesamaan yang saya garis bawahi adalah karena beliau merasa telah dididik dengan kurang baik atau salah asuhan, lalu hal tersebut melahirkan a broken innerchild yang ternyata mengendap dan dibawa sampe dewasa, lalu menjelma menjadi bentuk lain yang merusak, misalnya depresi atau paranoia…

A broken innerchild, bisa hinggap pada siapa saja, semua orang bisa mengalaminya dan tak sedikit yang membutuhkan terapis atau bahkan psikiater untuk menyembuhkannya. 

Saya, sejak beberapa tahun terakhir merasa ada yang tidak bisa saya kendalikan, saya mempunyai kebencian dan amarah yang meletup letup yang tidak saya tahu harus ditujukan kepada siapa, dan karena itu saya semakin marah dan benci pada diri saya sendiri

Yaa, masa kecil saya tak banyak yang bisa saya ceritakan. Saya merasa tumbuh sendirian sejak kecil, tak ada orang yang benar benar bisa saya ajak bicara. Saya merasa kesulitan untuk mengatasi sesuatu yang kakak saya sangat mudah menjalaninya, saya selalu terbayang betapa sempurnanya mereka dan betapa gagalnya saya.

Kalo boleh jujur, masa kecil yang saya rasakan penuh dengan bully, ntah secara verbal maupun psikis. Entahlah,.. itu hanya sebagian kecil yang saya ingat.

Saya pernah berencana melakukan sesi hypnotherapy dengan kakak saya, namun karena waktu yang belum memungkinkan akhirnya saya belum jadi melakukannya.

Pun ketika saya melihat ada seminar bimbingan konseling tentang healing a broken inner child, saya bersemangat ingin ikut. Dan ternyata saya belum.berjodoh.

Lalu, waktu berjalan dan kejadian demi kejadian terlewati…

Mendapatkan banyak cinta, sedikit demi sedikit mengikis kerak kerak kebencian dan amarah yang tidak terselesaikan…

Pelan pelan… Saya memaafkan.

Dan Alhamdulillah, sepertinya saya sudah tidak memerlukan terapi atau bimbingan konseling yang saya inginkan, insyaalloh dengan seijin Alloh serta restu dan doa yang tiada terputus dari Ibunda, saya mampu memengatasinya, semoga XD XD
❤ cwh

Advertisements